Jowaran, pintu gerbang selatan desa Jambuwer

Suatu saat jika desa Jambuwer menjadi tempat yang banyak dikunjungi orang, maka jowaran akan menjadi rest area, suatu daerah tempat istirahat sejenak sebelum memasuki Jambuwer. Jowaran, jalan yang cukup indah dengan pemandangan persawahan di kanan kiri dan pohon – pohon besar di tepiannya, kiranya cukup memberi gambaran kepada siapa saja yang akan memasuki Jambuwer. Jalan itu juga cukup memberikan pesan dan kesan kepada siapa saja yang meninggalkan Jambuwer. Pada saat berlalu, dalam perjalanan meliwati jalan yang mempunyai panjang kurang dari satu kilometer itu, orang mungkin akan sempat merenung atau sekedar menikmati keindahan alam di sekitarnya. Bagi warga krajan – glagaharum, jowaran merupakan satu – satunya jalan keluar terdekat yang dapat ditempuh menggunakan kendaraan ketika ingin bepergian ke daerah lain, khususnya ke desa tetangga Peniwen dan kecamatan Kromengan. Saat keadaan jalannya rusak, sangat terasa ketidak nyamanan dirasakan apabila hendak bepergian. Namun itu sekarang tidak terjadi, mengingat sejak 2009 telah dilakukan peng-aspalan hotmix secara bertahap, sehingga jalan ini menjadi nyaman ketika dilewati warga untuk berbagai keperluan.

Jalan jowaran (2012)

Nama jowaran, seperti umumnya penamaan daerah / tempat – tempat lain di Jambuwer, diambil dari sesuatu yang dominan atau aneh di tempat itu. Jowaran adalah pohon yang dulu banyak di sepanjang jalan itu. Namun sayang sekarang pohon jowaran saat ini sulit ditemui bahkan di jalan Jowaran sendiri. Jalan Jowaran terletak di dusun krajan wilayah RT 01 RW 01, dan menjadi jalan masuk utama ke desa Jambuwer dari perbatasan sebelah selatan – timur, atau perbatasan dengan desa Peniwen.

Biasanya pada bulan romadlon, sehabis solat subuh, banyak warga yang memanfaatkannya sebagai sarana untuk jalan santai, apalagi pada saat hari libur, permulaan puasa atau hari minggu. Udara yang sejuk dan hangatnya sinar mentari menjadi pesona Jowaran di pagi hari. Dan suasana itu mungkin dirasakan menambah hangatnya melaksanakan ibadah di bulan suci. Selain itu, dulu (waktu penulis masih kecil, 1985-an) sungai – sungai kecil di sekitar jowaran merupakan tempat mandi yang meng-asyik-an terutama bagi anak – anak tentu.

Di Jowaran juga terdapat dua sungai kecil yang mengapitnya untuk keperluan pengairan sawah dan kadang – kadang untuk mandi anak – anak. Beberapa tahun terakhir, mulai sekitar 2008, banyak dilakukan perbaikan pada dam – dam dan saluran air yang mengatur pengairan sawah. Perbaikan – perbaikan ini selain untuk mengatur perairan juga akan menjaga jalan dari longsor, menyempitnya bahu jalan atau tergerusnya jalan oleh aliran air.

Sebagai pintu masuk ke Jambuwer, keadaan jowaran yang indah dan sejuk perlu terus dijaga agar Jowaran tetap mampu memberikan “kata pengantar” bagi siapa saja yang masuk ke Jambuwer. Hal ini diharapkan dapat memberi kesan awal tentang keadaan di Jambuwer. Penulis punya impian jika suatu saat di tepi jalan yang masih kosong dapat ditanami pohon – pohon lain yang bermanfaat bagi siapa saja, khususnya warga Jambuwer. Misalnya tanaman buah, atau tanaman yang dapat dimanfaatkan daunnya untuk makan ternak. Jika jowaran menjadi rest area nanti tentunya banyak orang berjualan makanan, kuliner khas Jambuwer, owesome…

Salah satu talut Jowaran (2017)

Mulai tahun 2015, pada masa pemerintahan bapak Tuwuhadi, dilakukan pembangunan talut penyangga jalan di beberapa titik jalan jowaran.

Advertisements

One Comment Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s