mBah Demoen

Mbah Demoen (tengah), bersama istri mbah Damarini dan putranya mbah Cokroredjo (kanan)

Mbah demoen termasuk dalam enam orang pertama yang datang dan membuka hutan yang kini disebut Jambuwer, sekitar tahun 1857. Mbah Demoen bersama mbah Giso, mbah Senen, mbah Goneng, mbah Koilah dan mbah Prodjo membuka hutan belantara (babat alas) yang lebat tersebut guna dijadikan tanah pertanian, lalu mereka tinggal (ndarung) di tempat yang dipilihnya yaitu tempat yang sekarang dikenal dengan nama Jambuwer. Untuk melanjutkan tujuannya, penebangan hutan diteruskan untuk memperluas wilayah dan kemudian menanam tanaman untuk kebutuhan makanan sehari – hari pada tempat yang sudah menjadi ladang .
Sampai dengan tahun 1861, makin banyak orang berdatangan untuk ikut tinggal di wilayah hasil babat alas mbah Demoen, dan makin luas pula tanah babatan baru yang dijadikan lahan pertanian. Pada tahun itu pula Bapak Gobro, salah satu pendatang yang terkemuka dari Kepanjen,  mengusulkan kepada pemerintah desa Kromengan agar darungan tersebut dijadikan sebuah pedukuhan baru dan digabungkan dengan pemerintahan Desa Kromengan Kecamatan Sumberpucung. Usulan itu diterima dan diijinkan, sehingga tempat darungan tersebut dijadikan pedukuhan dengan nama “JAMBUWER”. Mbah Gobro kemudian diangkat menjadi kamituwo di Dukuh Jambuwer tersebut. Beliau menjabat kurang lebih selama enam tahun, sampai tahun 1867.

Jabatan kamituwo kemudian digantikan oleh mbah Lebar. Dukuh Jambuwer mengalami pergantian status menjadi desa pada tahun 1880, dan mbah Lebar diangkat menjadi kepala desa pertama Jambuwer. Beliau menjabat selama 17 tahun yaitu sampai dengan tahun 1897. Sesudah mbah Lebar meninggal dunia, maka pemerintahan Desa Jambuwer dipimpin oleh kamituwo mbah Demoen, lalu penduduk Desa Jambuwer mengadakan pemilihan Kepala Desa yang baru dan hasilnya mbah Demoen sendiri yang terpilih menjadi Kepala Desa Jambuwer yang kedua.

Pada masa pemerintahan mbah Demoen, jumlah penduduk yang datang untuk tinggal di Jambuwer makin bertambah, maka usaha utama mbah Demoen adalah perluasan wilayah. Mbah Demoen mengajukan permohonan (rekes) kepada pemerintah untuk membuka hutan di Sumberdjo, tempat yang sekarang menjadi dukuh Rekesan.

Karena usia lanjut, mbah Demoen diberhentikan dengan hormat sebagai kepala desa dan digantikan oleh Bapak Asmorejo (EX Polisi PP) dari Kecamatan Kepanjen, yang waktu itu disebut Oepas Keonderan. Mbah Demoen menjadi Kepala Desa Jambuwer selama 16 tahun, mulai tahun 1897 sampai dengan tahun 1913.

Mbah Demoen menikah dengan mbah Damarini. Dari pernikahan tersebut lahir putra beliau Cokroredjo, yang kemudian menjadi kepala desa ke tiga Jambuwer.

Advertisements

2 Comments Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s