mBah Lebar, kepala desa Jambuwer pertama

IMG_20170428_141932
mBah Lebar, kepala desa Jambuwer pertama 

Mbah Lebar memang tidak termasuk dalam enam orang yang bedah krawang jambuwer, namun beliau tercatat sebagai kepala desa pertama Jambuwer. Sebelumnya beliau menggantikan mbah Gobro sebagai kamituwo pedukuhan Jambuwer.  Beliau menjabat sejak tahun 1867 sampai dengan 1897 setelah beliau pada suatu rapat di desa Kromengan mengusulkan agar pedukuhan Jambuwer dijadikan desa tersendiri. Pada waktu itu status wilayah yang diberi nama Jambuwer masih merupakan pedukuhan dengan jumlah keluarga kurang lebih 70 keluarga. Usul itu diterima, sehingga pedukuhan Jambuwer disahkan menjadi desa sendiri dengan nama “JAMBUWER”, berdasarkan surat keputusan atas berdirinya desa tersebut oleh Residen Pasuruan, sedang mbah Lebar diangkat sebagai Kepala Desa Jambuwer yang pertama. Pada waktu itu desa Kromengan dipimpin oleh kepala desa mbah Singo Wiryo (1856 – 1888).

Mbah Lebar melakukan beberapa perbaikan perairan dan perluasan tanah – tanah pertanian yang pelaksananya dikerjakan secara bergotong royong. Beberapa sarana irigasi yang dikerjakan pada saat itu antara lain membangun Bendungan Pehklitik dan mengatur sumber Ambyakan. Dengan diadakannya kedua pembangunan tersebut maka penduduk desa Jambuwer pada masa itu sudah dapat memperluas tanah – tanah pertanian dengan jalan membuat (nyitak) tanah untuk sawah baru.

Pada tahun 1897, terjadi kecelakaan yang menyebabkan mbah Lebar meninggal dunia, yaitu tertimpa kayu ketika beliau menjalankan kewajiban di kebun kopi atas perintah dari atasan yang disebut “Rawuhan Pengageng”.

Menurut penuturan bu Supiani, cucu mbah Lebar dari putra pak Ngalimin, mbah Lebar datang ke wilayah ini bersama tiga orang teman / saudara. Beliau adalah mbah Rup, mbah Lebar dan mbah Simpen. Mbah Rup kemudian pergi ke daerah Sumberpucung. Sedang mbah Lebar dan mbah Simpen tetap tinggal di Jambuwer. Beliau bertiga berasal dari Mataram, jawa tengah. Mbah Lebar kemudian mempunyai tiga putra yaitu ibu Mari, bapak Ngalimin dan bapak Kemat. Ibu Supiani, lahir kurang lebih 1928, juga menceritakan bahwa pada waktu mbah Lebar meninggal, pak Ngalimin masih duduk di sekolah dasar di desa Kromengan. 

Tempat tinggal mbah Lebar sampai beliau menjadi kepala desa dan meninggal dunia berada di rumah yang sekarang ditinggali oleh cucu mbah lebar yang lain, bapak Suliyan. Rumah tersebut berada di belakang langgar / tpq al Fatah dusun krajan. Rumah tersebut dulunya berbentuk pendopo terbuka dengan pondasi masih dari umpak, batu kali, dengan meja kursi di bagian tengahnya. Bangunan rumah mbah lebar sudah dipugar sesuai bangunan rumah model sekarang.

Mbah Lebar dimakamkan di kramatan desa Jambuwer. Dulu makam beliau ditandai dengan pohon jenar. Pohon tersebut ditanam di halaman kecil makam beliau. Saat ini (2017), pohon tersebut sudah lama ditebang. 

Advertisements

5 Comments Add yours

  1. Slametjatim says:

    Luar biasa

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s