Suroan, peringatan 1 muharram di Jambuwer

Bulan suro (jawa) atau Muharram (Islam) merupakan salah satu bulan yang berarti bagi penduduk Jambuwer, atau orang jawa pada umumnya. Meskipun mungkin banyak penduduk yang kurang tahu bahwa itu adalah salah satu hari besar Islam juga [2012]. Kebayakan orang Jambuwer lebih kenal dengan Suro dari pada Muharram. Sampai saat ini penduduk melakukan dan mempercayai segala sesuatu yang menyangkut bulan suro / muharram secara turun temurun. Ini disebabkan karena budaya Jawa masih kuat dikalangan masyarakat.

Bulan suro dianggap sebagai bulan winggit, ada banyak hal yang tidak boleh dilakukan di bulan ini. Kegiatan yang paling nampak disini pada bulan suro, adalah peringatan 1 suro di mbah Dul Karim (dusun krajan), peringatan 1 muharram di Masjid Jami’ Baitul Makmur, selamatan di sumber – sumber air atau di wilayah tertentu, serta tidak adanya kegiatan – kegiatan seperti menikah, mendirikan rumah, pindah rumah dan sebagainya, bahkan sampai mulai menanam di sawah / kebun pun tidak dilakukan (pada tanggal 1 suro). Satu – satunya kegiatan membangun yang boleh dilakukan adalah mendirikan pagar.

Mbah Dul Karim adalah tokoh spiritual yang hidup sekitar tahun 60-an. Pada masa hidupnya sampai sekarang, padepokan mbah Dul yang mulai berdiri tahun 50an, banyak didatangi oleh orang – orang dari luar kota, bahkan dari propinsi lain, untuk melakukan selamatan suroan dengan berbagai tujuan antara lain : kesembuhan, kelancaran mencari nafkah, karier dan sebagainya. Setalah melakukan selamatan kemudian dilanjutkan dengan pertunjukkan wayang kulit. Pada saat mbah Dul masih hidup, pertunjukkan wayang ini dilakukan selama 7 hari 7 malam, namun sekarang [2012] pertunjukkan tinggal satu hari satu malam, atau kadang cuma semalam. Dengan keadaan tersebut jumlah tamu – tamu yang datang untuk melakukan selamatan masih relatif banyak. Setelah mbah Dul meninggal, prosesi upacara dilakukan oleh keturunan beliau, dan saat ini yang biasa memandu prosesi selamatan adalah bapak Budiono, salah satu cucu mbah Dul.

Jalan santai memperingati tahun baru Islam 1 Muharram (2012)

Beberapa tahun terakhir, mulai sekitar 2009, Ta’mir masjid Jami’ Baitul Makmur desa Jambuwer juga mulai melakukan peringatan 1 muharram. Hal ini tentu tidak aneh karena memang ini peringatan tahun baru Islam. Sebenarnya acara peringatan tahun baru ini telah lama dilakukan, namun dulu sifatnya masih tertutup, artinya hanya kalangan tertentu saja yang mengikuti, dan banyak masyarakat yang tidak tahu.

Rendra Kresna, wakil bupati Malang, pada peringatan suroan di balai desa Jambuwer

Pada tahun 2009 pula pemerintah desa Jambuwer masa jabatan bapak Sareh Suseno, mengelar kirab budaya keliling desa serta pertunjukan berbagai kesenian asli jambuwer di balai desa. Kegiatan ini juga dihadiri bapak Rendra Kresna yang waktu itu menjabat wakil bupati Malang. Peringatan ini juga bekerja sama dengan lembaga pelestarian budaya jawa “Raket Prasojo”.

Sareh Suseno beserta perangkat desa pada karnaval suroan (2009)

Tahun 2012, peringatan 1 muharram diperingati dengan jalan santai keliling desa / dusun. Kegiatan yang diikuti jama’ah tahlil, pelajar SD – SMP, pemuda masjid dan masyarakat umumnya. Kegiatan kemudian diakhiri dengan pengajian da’i cilik dari Kepanjen dan pembagian doorprice. Sepertinya kegiatan semacam ini akan terus dilakukan ditahun – tahun mendatang, mengingat banyak manfaat yang dirasakan diantaranya kesadaran semua orang akan 1 muharram sebagai tahun baru Islam.

Sebagian besar masyarakat jambuwer sangat menaruh perhatian kepada 1 suro atau muharrom ini. Ini dibuktikan dengan banyaknya peringatan yang dilakukan secara sporadis. Di beberapa daerah di jambuwer banyak kegiatan – kegiatan kecil seperti selamatan di sumber – sumber air, membenahi pagar kebun, sawah, atau rumah; selamatan bersama – sama dalam satu wilayah (misalnya satu RW) di rumah – rumah pamong, dan sebagainya.

Dari sini dapat kita tarik kesimpulan bahwa banyak keterkiatan antara kesenian, budaya, waktu, dan kegiatan masyarakat, keagamaan. Hal – hal tersebut semakin menambah kekayaan budaya yang hidup dan lestari di daerah Jambuwer. Segala kepercayaan yang ada di sekitar bulan suro dan masih kuat melekat di masyarakat Jambuwer adalah sesuatu yang perlu dilihat dari sisi positifnya saja. Kita akan kesulitan mencari asal – usul dan manfaat dari semua kepercayaan itu. Atau mungkin itu menjadi tugas kita, generasi penerus, untuk melakukan ekplorasi dan memaknai hakikat keberagaman budaya kita untuk semakin membawa manfaat bagi kemajuan bersama.

Advertisements

One Comment Add yours

  1. setiyo budi says:

    Sebenarnya saya juga mau nulis banyak tentang suro'an di mbah Dul, tapi belum punya banyak bahan..

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s