Sanggar Tari Topeng Malangan Galuh Candra Kirana

Pagelaran topeng malangan di sanggar galuh candra kirana (12/2014)
Topeng Klono pada karnaval hut RI ke 68 desa Jambuwer (2012)

Topeng Malang merupakan jenis kesenian yang termasuk langka dan merupakan kebanggaan Kabupaten Malang. Di kabupaten Malang sendiri hanya sedikit daerah yang masih konsisten melestasikan kesenian tersebut. Pengiat kesenian tradisional ini banyak berada di daerah Tumpang, Pakisaji dan Kromengan yang bertempat di desa Jambuwer.
Sanggar Tari Topeng Galuh Candra Kirana desa Jambuwer dipimpin oleh bapak Djiono Bardjo. Beliau lahir di Malang, 10-06-1956 yang juga merupakan salah satu pelatih tari topeng senior di wilayah Malang. Tari wayang topeng yang dikembangkan sanggar ini adalah Wayang Topeng Malangan yang mempunyai ciri khas beda dengan tari topeng didaerah lain. Topeng malangan menggunakan musik gamelan sebagai pengiringnya. Sanggar Galuh Candra Kirana berdiri sejak 06 – 07 – 1958, berlamatkan di dusun Krajan Rt.07 Rw.03 Jambuwer. Saat ini sanggar beranggotakan 22 pria dan 2 wanita sehingga jumlah selurus anggota ada 24 orang.

Latihan rutin, salah satu kegiatan rutin sanggar Galuh Candrakirana
Penampilan tari topeng pada kegiatan Ramadhan bersama KKN Universitas Negeri Malang (2017)

Menurut sejarah Topeng Malangang dari sumberpucung17, bapak Bardjo Jiono merupakan generasi ke delapan dari guru cikal bakal dari topeng malangan yaitu bapak Seno dari dusun Senggreng, Jatiguwi, kecamatan Sumberpucung kabupaten Malang. Awal mulanya pada sekitar tahun 1890 terdapat tokoh bernama Tuan Kusen dan Tuan Yansen warga Belanda yang bertempat tinggal di Dusun Jatimulyo (Kebon Klopo) Desa Jatiguwi Kecamatan Sumberpucung. Mereka ahli menari Tari Topeng, pada saat itu Tuan Kusen ketika menari menjadi Tokoh Gunungjati, dan Tuan Yansen membawakan tokoh Potrojoyo. Mereka mempunyai 2 (dua) orang Kacung-kacung (pembantu) yaitu Pak Seno dan Pak Madrim yang berasal dari Desa Senggreng Kecamatan Sumberpucung.

Lama menjadi pembantu pada orang kedua orang tersebut, Pak Seno dan Pak Madrim turut belajar menari topeng sampai ahli melebihi gurunya. Dari gurunya, mbah Seno membawa 16 karakter topeng, dan karena situasi yang tidak memungkinkan, maka Pak Seno menitipkan topeng-topeng tersebut kepada Pak Reni, di Polowijen, Malang. Kemudian oleh Pak Reni karena beliau juga suka terhadap topeng, akhirnya karakter topeng ditambahkan menjadi 62 karakter wajah, yang nantinya dibuatkan juga koreografi tarian oleh Pak Seno.

Pak Bardjo Jiono, bersama 2 rekannya mempelajari Tarian Gunungsari dan Klono pada sekitar Tahun 1965. Setelah masa tersebut tidak ada lagi sumber yang menceritakan bahwa Pak Seno menerima murid lagi, jadi Pak Bardjo Jiono beserta 2 rekannya merupakan murid terakhir, sejak itu perkembangan Tari Topeng di Kecamatan Sumberpucung mengalami masa suram, grup-grup Tari Topeng yang ada di Senggreng dan Jatiguwi mati suri. Namun sebagian penari-penarinya tetap aktif menjadi penari Topeng membantu pada grup di tempat lain yang masih hidup, seperti di Kedungmonggo, Jabung dan lain-lain. Pak Seno meninggal dunia pada Tahun 1976.

Mbah Seno, desa Senggreng, nara sumber topeng malangan

Bapak Bardjo (jambuwer) nyekar ke makam gurunya, mbah Seno di desa senggreng (2017)
Advertisements

2 Comments Add yours

  1. setiyo budi says:

    Kapan ya sekolah – sekolah yang ada di jambuwer menjadikan tari topeng ini sebagai walah satu ekstra kurikuler, pasti lebih seru ..

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s