Riaya, Idul Fitri di Jambuwer

Takbir keliling dengan truk miniatur (2017)

Peringatan hari raya idul fitri di Indonesia mempunyai ragam bentuk. Seperti halnya peringatan hari besar Islam lainnya, masyarakat Indonesia dibanyak tempat mempunyai kreatifitas yang beragam dalam memperingatinya. Tidak terkecuali di desa Jambuwer, datangnya hari raya Idul Fitri 1 syawal juga memberi arti tersendiri bagi semua warganya. Para warga yang mudik dari berbagai daerah, takbir keliling, halal bihalal keliling kampung merupakan contoh aktifitas rutin warga jambuwer setiap datangnya riaya, sebutan untuk tanggal 1 syawal di Jambuwer. Sedangkan kegiatannya warga Jambuwer menyebutnya riayan. 

Sholat Id di Masjid al-Aqsho Glagaharum 1438 H (2017)

Di Jambuwer, selain kegiatan syar’i seperti zakat fitrah, takbiran, sholat id serta halal bi halal, dilakukan pula aktifitas / tradisi lain yang mengiringi datangnya riaya. 

Beberapa tradisi yang ada di Jambuwer antara lain:

  1. Selamatan pada malam 29 atau malam 1 syawal
  2. Berkunjung ke tetangga, orang tua, saudara untuk meminta maaf atau saling memaafkan
  3. Ziarah kubur
  4. Mencuci alat kerja khususnya alat pertanian, pertukangan
  5. Kupatan

Di Jambuwer sampai tulisan ini ditulis (2017), masih terdapat 2 versi jatuhnya tanggal 1 syawal, yaitu aboge dan asopon. Secara sederhana aboge digunakan oleh masyarakat Islam kejawen, biasanya jatuhnya tanggal 1 syawal lebih lambat 1 s d. 2 hari. Aboge didasarkan kepada perhitungan jawa, mirip dengan metode hisab, sehingga tahun kapanpun warga yang menggunakan perhitungan aboge akan tahu, riaya jatuh pada hari apa beserta pasarannya. Ada perkecualian dalam hitungan aboge yaitu apabila hitungannya jatuh pada hari jumat wage. Apabila terjadi demikian maka jatuhnya 1 syawal dimundurkan pada hari sabtu kliwon. Sedangkan asopon mengikuti penetapan 1 syawal oleh pemerintah, kadang oleh warga Jambuwer disebut riaya santri. Tidak seperti penganut hitungan aboge didaerah lain, umat Islam di Jambuwer tidak pernah melakukan sholat Id pada hitungan ini. Sholat id tetap dilakukan menurut ketetapan 1 syawal dari pemerintah. Yang membedakan hanya waktu selamatan riaya dan riayan-nya. Namun perbedaan tersebut tidak pernah menjadi masalah yang besar, warga Jambuwer tetap riayan dengan penuh kerukunan dan gayeng.

Dulu, sekitar sebelum tahun 2000an,  selamatan / genduren riaya dilakukan pada malam – malam ganjil (21, 23 dst) kemudian ditambah dengan selamatan pada malam riaya, atau menjelang takbiran. Namun beberapa tahun terakhir berkembang tradisi baru. Beberapa wilayah ada yang menghilangkan genduren maleman, dan hanya melakukan pada malam riaya. Ada juga yang menggabungkan meleman dengan slametan riaya, dan melakukannya pada malam ke 29. Genduren ini juga sudah tidak dilakukan di rumah – rumah warga, tetapi dikumpulkan beberapa rumah / keluarga (lingkungan) di langgar atau masjid, atau rumah warga.

Kegitan saling berkunjung ke rumah tetangga, sedulur maupun orang tua untuk saling memaafkan sebetulnya dulu tidak pernah disebut secara khusus, warga Jambuwer tetap menyebutnya riayan. Beberapa tradisi pada kegiatan ini antara lain, mandi pagi sebelum matahari terbit, yang dipercaya warga bisa membuat awet muda. Untuk saudara yang lebih tua atau orang tua, di beberapa daerah misalnya Glagaharum, kegitan ini dilakukan pertama kali sebelum berkunjung ke warga yang lain. Ini juga dilakukan sebelum matahari terbit. Adanya dua hitungan tentang jatuhnya 1 syawal tersebut mengakibatkan kegiatan saling memaafkan ini banyak dilakukan pada hitungan aboge. Sehingga setelah menjalankan sholat id, masih sedikit warga jambuwer yang riayan. Beberapa warga bahkan ada yang masih ke ladang atau kebun. Kecuali warga dari desa sekitar yang mengunjungi orang tuanya di Jambuwer. Banyaknya anak anak kecil dan pemuda yang berkeliling ke tangga teparo juga lebih banyak dilakukan pada hitungan aboge. Khusus anak kecil akan mendapatkan sangu, sejumlah uang sebagai sedekah dari tuan rumah. Dan tentu saja, terdapat jajan riaya di tiap rumah.

Lomba takbir di masjid Baitul Makmur pada malam riaya (2014)
Advertisements

One Comment Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s