Sejarah desa Kromengan

Sejarah desa Kromengan coba penulis tulis dan susun ulang dari berbagai sumber mengingat sejarah desa Jambuwer berkaitan erat dengan sejarah desa Kromengan. Seperti di tulis di asal usul desa Jambuwer bahwa sebelum menjadi desa tersendiri, Jambuwer merupakan pedukuhan yang berada dibawah pemerintahan desa Kromengan. Jika memperhatikan perkiraan tahun kejadiannya (sekitar abad ke 16 – 17, tahun 1500 – 1600an), maka di tanah Jawa waktu itu sedang terjadi peperangan di kerajaan Mataram yang dikenal dengan perang jawa pertama. Mungkin karena peperangan tersebut, banyak rakyat maupun pejabat dari kerajaan Mataram Jawa Tengah yang pindah ke arah timur, baik berkelompok maupun perorangan. Sehingga tidak heran jika penduduk awal yang bedah krawang / babat alas dan menempati sekitar daerah ini berasal dari kerajaan Mataram.

sumber :

Asal Mula Desa Kromengan

Kepala desa Kromengan dari jaman ke jaman

Berdasarkan cerita rakyat masa terdahulu wilayah yang sekarang menjadi desa Kromengan masih berupa hutan belantara. Kemudian datanglah rombongan orang yang melakukan babat alas, bersama keluarga dan kerabatnya hingga menjadi sebuah perkampungan atau pedesaan. Desa Kromengan berdiri kurang lebih sekitar tahun 1700an (sekitar terjadinya perang Jawa pertama), atau 3 abad yang lalu dari sekarang (2017). Konon ceritanya, daerah di wilayah sekitar berdirinya desa Kromengan didatangi oleh lima saudara yang berasal dari Kerajaan Mataram Jawa tengah dan seorang cantrik.

Mereka itu adalah:

  1. MBAH JOGO
  2. MBAH BODO
  3. MBAH KEBO / MBAH WASTU
  4. MBAH DORO / Ki Ageng Kanduruhan
  5. MBAH LAYAR
  6. MBAH BERUK (seorang Cantrik)

Setelah meraka datang ke wilayah ini, mereka kemudian berpencar sendiri – sendiri ke tempat yang berbeda antara lain :

MBAH JOGO / nJugo

Mbah nJugo pergi ke arah utara yaitu ke daerah yang sekarang menjadi desa Wonosari, wilayah gunung Kawi. Beliau kemudian pergi lagi ke arah barat sampai di wilayah Kesamben kabupaten Blitar. Disana mbah Jugo membuka desa baru yang diberi nama desa Jugo. Di desa ini terdapat petilasan mbah nJugo yang juga menjadi tujuan bagi para peziarah (REF : https://id.wikipedia.org/wiki/Jugo,_Kesamben,_Blitar ).

Mbah nJugo atau eyang nJugo dimakamkan di Wonosari gunung Kawi, sesuai pesan beliau sebelum meninggal. Sampai saat ini, tempat pesarean beliau juga menjadi tujuan ziarah.

Referensi : https://jawatimuran.net/2012/11/24/riwayat-situs-tempat-keramat-gunung-kawi-kabupaten-malang/ )

MBAH BODO

Mbah Bodo pergi ke arah selatan. Beliau sampai di suatu tempat dan membuka hutan sebagai tempat tinggal. Tempat yang ditinggali mbah Bodo sekarang menjadi sebuah padukuhan dengan nama dukuh mBodo yang masuk wilayah desa Jatiguwi kecamatan Sumberpucung kabupaten Malang.

Ada beberapa versi cerita tersendiri tentang mbah Bodo ini. Ada versi yang menyebutkan bahwa beliau adalah Tumenggung Surontani. Ada juga versi yang menyebutkan bahwa mbah Bodo adalah Joko Bodo yang merupakan komandan tempur dari tumenggung Surontani yang sedang ditugaskan di wilayah brang wetan (Kepanjen dan sekitarnya).

Referensi : http://sumberpucung17.blogspot.co.id/2016/11/mengupas-sejarah-makam-mbah-mbodo.html

makam-mbah-mbodo-jatiguwi
Makam mbah mBodo di Desa Jatiguwi, Kec. Sumberpucung, Kab. Malang, Jawa Timur. Letak makam ini berada di tepi jalan raya Malang-Blitar (foto: sumberpucung17)

MBAH KEBO atau mbah Wastu

Beliau pergi ke wilayah utara yang sekarang menjadi kota Batu. Beliau adalah seorang ulama pengikut Pangeran Diponegoro yang bernama Abu Ghonaim atau disebut sebagai Kyai Gubug Angin yang selanjutnya masyarakat setempat akrab menyebutnya dengan panggilan Mbah Wastu. Dari kebiasaan kultur Jawa yang sering memperpendek dan mempersingkat mengenai sebutan nama seseorang yang dirasa terlalu panjang, juga agar lebih singkat penyebutannya serta lebih cepat bila memanggil seseorang, akhirnya lambat laun sebutan Mbah Wastu dipanggil Mbah Tu menjadi Mbatu atau Batu sebagai sebutan yang digunakan untuk sebuah kota dingin di Jawa Timur. ( https://id.wikipedia.org/wiki/Kota_Batu )

MBAH DORO

Mbah Doro membuka hutan di sebelah timur wilayah yang dibedah oleh mbah Layar. Daerah itu sekarang menjadi pedukuhan yang dikenal dengan Nggejet (sekarang Ringin Anom, 2017) salah satu pedukuhan yang masuk wilayah desa Kromengan. Beliau meninggal dan dimakamkan di dusun ini.

Ada cerita tersendiri mengenai mbah Doro, ada yang menyebut beliau dengan nama Ki Ageng Kanduruhan. Pesarehan beliau masih ada sampai sekarang di dusun Ringgin anom dan sering juga dikunjungi oleh para peziarah bahkan dari luar kota. Berdasarkan nasab yang tertulis di dinding makam beliau, Ki Ageng Kanduruhan merupakan cucu dari Sunan Ampel yang dimakamkan di Surabaya, salah satu dari wali songo. Ki Ageng Kanduruhan merupakan cucu sunan Ampel dari istri kedua Dewi Karimah binti ki Kembang Kuning.

Makam beliau dibangun sekitar tahun 1996 oleh beberapa warga sekitar termasuk dari desa Jambuwer. Pada makam tertulis wafat beliau tahun 1511 M.

Referensi : http://www.malangtimes.com/baca/17355/20170305/100324/makam-cucu-sunan-ampel-diyakini-berada-di-kromengan-/

Gapura menuju area pemakaman ki ageng Kanduruhan di dusun Ringgin Anom desa Kromengan (foto : nana/Malangtimes)

MBAH LAYAR

Mbah Layar tetap tinggal di wilayah yang kemudian dikenal sebagai Kromengan dan membuka hutan (bedah krawang) di sini sampai beliau meninggal. Awalnya kata “KROMENGAN” berasal dari keadaan masyarakat yang saat itu terkena wabah penyakit pes. Masyarakat jaman dulu menyebutnya dengan pagebluk, yang ditandai dengan sakit mendadak yang berakhir dengan kematian, pagi sakit sore meninggal, sore sakit pagi meninggal. Keadaan tersebut terjadi pada masa penjajahan Belanda, sehingga menyebabkan kondisi penduduknya KELEMENGAN (jawa), yang artinya bingung, maka lama kelamaan dari istilah itu menjadi nama desa KROMENGAN.

Mbah Layar merupakan orang yang pertama kali dimakamkan di tempat pemakaman umum (TPU) desa Kromengan. Mbah Layar adalah sosok orang jawa jg mempunyai pengetahuan dan ilmu kejawen. Beliau meninggal di sebuah sungai playangan, tersangkut (jawa, semampir) di pohon randu yang roboh.

 

Makam mbah Layar di pemakaman umum Kromengan dan Karangrejo (2017)

MBAH BERUK

Mbah Beruk (seorang wanita) merupakan cantrik yang membantu pekerjaan tuannya, mbah Layar. Mbah Beruk membantu mbah Layar dalam membuka hutan di wilayah Kromengan. Dan di tempat inilah beliau berdua bermukim sampai wafat. Mbah Layar dimakamkan pemakam umum desa Kromengan, sedangkan mbah Beruk dimakamkan di daerah yang disebut Krapyak, yaitu tempat dimana dulu dijadikan petilasan (tempat tinggal) oleh mbah Layar. Tempat tersebut sekarang menjadi punden, berada di sebelah utara kantor desa Kromengan.

Makam dan petilasan mbah Beruk (2017)

Mbah Layar dan mbah Beruk inilah yang olah masyarakat Kromengan dianggap sebagai leluhur cikal bakal atau yang bedah krawang desa Kromengan, sehingga setiap kegiatan bersih desa selalu dilakukan selamatan kemudian dilanjutkan dengan nyadran (ziarah) baik ke petilasan di punden krapyak maupun ke makam mbah Layar di pemakaman umum desa.

Pada setiap mengadakan bersih desa Kromengan selalu dimainkan 12 lagu jawa yang konon merupakan kelangenan mbah Beruk, serta pagelaran wayang kulit di balai desa Kromengan. Mbah Beruk mempunyai keturunan bernama mbah Tronggolo. Dari mbah Tronggolo kemudian mempunyai keturunan yang bernama mbah Singo Wiryo yang kemudian menjadi kepala desa / lurah pertama di desa Kromengan (tahun 1856 s.d. 1888).

Makam Mbah BERUK di punden Krapyak (foto Mardha / 2017)

Lurah Kromengan pertama, mbah SINGO WIRYO (1856 – 1888)

Mbah Singo Wiryo merupakan salah satu keturunan dari nenek moyang desa Kromengan mbah Beruk, yaitu keturunan dari mbah Tronggolo. Beliau menjadi lurah / kepala desa selama kurun waktu tahun 1856 sampai dengan 1888.

Pada masa inilah, mbah Gobro salah satu pemuka dari darungan yang kemudian disebut Jambuwer mengusulkan kepada pemerintah desa Kromengan agar daerah tersebut dijadikan pedukuhan dan digabungkan dengan pemerintahan desa Kromengan. Usulan itu diterima dan diijinkan, sehingga tempat darungan tersebut dijadikan pedukuhan “JAMBUWER”.

Pada pemerintahan mbah Singo Wiryo juga, yaitu pada tahun 1880, di suatu rapat di desa Kromengan, mbah Lebar yang merupakan kamituwo pengganti mbah Gobro, mengusulkan pada pemerintah desa Kromengan agar pedukuhan Jambuwer dijadikan desa sendiri. Usul itu diterima, sehingga pedukuhan Jambuwer dijadikan dan disyahkan menjadi desa sendiri dengan nama Desa JAMBUWER.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s